Proses akhir dari rangkaian penanganan sampah yang biasa dijumpai di Indonesia dilaksanakan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Pada umumnya metode pembuangan akhir sampah yang dilaksanakan di TPA berupa proses landfilling (pengurugan).

 

Terdapat beberapa alasan yang menyebabkan proses pengurugan (landfilling) tidak dapat tergantikan atau dihilangkan dalam sistem pengelolaan sampah perkotaan, antara lain:

a.       Teknologi pengelolaan limbah seperti reduksi di sumber, daur – ulang, daur – pakai atau minimasi sampah, tidak dapat menyingkirkan sampah secara menyeluruh,

b.      Tidak semua limbah mempunyai nilai ekonomis untuk di daur ulang,

c.       Teknologi pengolahan limbah seperti insinerator atau pengolahan secara biologi dan atau kimia tetap menghasilkan residu yang harus ditangani lebih  lanjut,

d.      Kadangkala sebuah limbah sulit untuk diuraikan secara biologis, atau sulit untuk dibakar, atau sulit untuk diolah secara kimia.  (Damanhuri, 1995)

 

Secara umum, berdasarkan sistem operasionalnya, terdapat tiga metode pembuangan akhir sampah, yaitu sanitary landfill, controlled landfill dan open dumping.

1.      Skema sanitary landfill

Merupakan lahan urug yang telah memperhatikan aspek sanitasi lingkungan. Sampah diletakkan pada lokasi cekung, kemudian sampah dihamparkan hingga lalu dipadatkan untuk kemudian dilapisi dengan tanah penutup harian setiap hari akhir operasi dan dipadatkan kembali setebal 10% -15% dari ketebalan lapisan sampah untuk mencegah berkembangnya vektor penyakit, penyebaran debu dan sampah ringan yang dapat mencemari lingkungan sekitarnya. Lalu pada bagian atas timbunan tanah penutup harian tersebut dapat dihamparkan lagi sampah yang kemudian ditimbun lagi dengan tanah penutup harian. Demikian seterusnya hingga terbentuk lapisan-lapisan sampah dan tanah. Bagian dasar konstruksi sanitary landfill dibuat lapisan kedap air yang dilengkapi dengan pipa pengumpul dan penyalur air lindi (leachate) yang terbentuk dari proses penguraian sampah organik. Terdapat juga saluran penyalur gas untuk mengolah gas metan yang dihasilkan dari proses degradasi limbah organik, lebih jelas lihat Gambar 2.5. Metode ini merupakan cara yang ideal namun memerlukan biaya investasi dan operasional yang tinggi.

 

 

2.   Skema controlled landfill

      Controlled landfill atau lahan urug terkendali diperkenalkan oleh Departemen Pekerjaan Umum pada awal tahun 1990-an merupakan perbaikan atau peningkatan dari cara open dumping tetapi belum sebaik sanitary landfill. Pada skema ini pelapis dasar berupa lapisan geomembran. Aplikasi tanah penutup harian dilakukan setiap 5-7 hari. Setelah masa layan habis, dilakukan penutupan akhir. Tetapi sampai saat ini metode controlled landfill masih dianggap mahal.

 

3.   Skema open dumping

Skema open dumping ini paling banyak diterapkan di Indonesia. Prinsip kerjanya sederhana: buang, tidak ada penanganan lebih lanjut terhadap sampah. Keuntungan utama dari sistem ini adalah murah dan sederhana. Kekurangannya, sistem ini sama sekali tidak memperhatikan sanitasi lingkungan. Sampah hanya ditumpuk seperti Gambar 2.6 dan dibiarkan membusuk sehingga menjadi lahan yang subur bagi pembiakan jenis-jenis bakteri serta bibit penyakit lain, menimbulkan bau tak sedap yang dapat tercium dari puluhan bahkan ratusan meter, mengurangi nilai estetika dan keindahan lingkungan. Tabel 2.3 memaparkan kelebihan dan kekurangan dari berbagai skema pengoperasian lahan urug.

 

Tabel Perbandingan Skema Lahan Urug (Damanhuri, 2004)

Skema Lahan Urug

Kelebihan

Kekurangan

Open Dumping

·      Teknis pelaksanaan mudah.

·      Personil lapangan relatif sedikit.

·      Biaya operasi dan perawatan yang relatif rendah.

·      Terjadi pencemaran udara oleh gas, bau dan debu.

·      Pencemaran air tanah oleh air lindi.

·      Resiko kebakaran cukup besar

·      Mendorong tumbuhnya sarang vektor penyakit (tikus, lalat, nyamuk).

·      Mengurangi estetika lingkungan.

·      Lahan tidak dapat digunakan kembali.

Controlled landfill

·      Dampak negatif  terhadap lingkungan dapat diperkecil.

·      Lahan dapat digunakan kembali setelah dipakai.

·      Estetika lingkungan cukup baik.

·      Operasi lapangan relatif lebih sulit.

·      Biaya operasi dan perawatan cukup besar.

·      Memerlukan personalia lapangan yang cukup terlatih.

Sanitary Landfill

·      Timbulan gas metan dan air lindi terkontrol dengan baik sehingga tidak mencemari lingkungan.

·      Timbulan gas metan dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi.

·      Setelah selesai pemakaiannya, area lahan urug dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti areal parkir, lapangan golf, dan kebutuhan lain.

·      Aplikasi sistem pelapisan dasar (liner) yang rumit.

·      Aplikasi tanah penutup harian yang mahal.

·      Aplikasi sistem lapisan penutup  akhir.

·      Biaya aplikasi pipa penyalur gas metan dan instalasi pengkonversian gas metan menjadi sumber energi.

·      Biaya aplikasi pipa-pipa pengumpul dan penyalur air lindi (leachate) dan intalasi pengolah air lindi.

 

 

 

 

About these ads